Tradisi Membuat Atap Sagu
Seiring arus
modernisasi penggunaan atap Tradisional dari
daun sagu kian jarang digunakan masyarakat. Ini disebabkan kian jarangnya ditemukan pembuatan
tradisi pembuatan atap.
Bagi masyarakat
etnis tolaki tradisi pembuatan atap dari daun sagu merupakan warisan nenek
moyang mereka di masa lalu. Dahulu daun sagu menjadi alat melindungi warga
dari terpaan hujan dan sinar matahari.
Inilah yang dilakukan mudin, pria uzur yang berdomisili di desa ambesea
kabupaten konawe selatan , sulawesi tenggara
ini menghabiskan waktunya dengan membuat atap rumah. Bahannya terbuat
dari daun sagu yang dianyam secara apik. Bahan daun sagu memang cukup mudah
diperoleh mudin, sebab banyak terdapat
sekitar rumahnya.
Cara pembuatan
atap daun sagu cukup mudah. Pertama dengan mengumpulkan lembaran-lembaran daun sagu yang telah lebih dulu dipisahkan dari
tangkainya. Lembaan daun sagu pilihan haruslah yang telah tua. Panjang sehelai
daun sagu mencapai satu meter setengah.
Saat dibuat atap daun sagu harus dilipat
dua. Diantara lipatan daun tersebut
diselip bambu yang telah diraut dan kemudian dianyam dengan tali yang terbuat
dari rotan. Sebuah atap membutuhkan sedikitnya 20 lembar daun sagu yang
disusun sejajar. Panjang selembar atap mencapai satu meter setengah.
Nah, atap yang telah jadi kemudian dijemur hingga daun berubah warna dari hijau menjadi coklat. Atap
yang telah kering inilah kemudian di pakai untuk menutup bagian atas rumah guna
melindungi dari terik matahari atau hujan.
Mudin mengaku
menggeluti profesi pembuat atap sejak tiga puluh tahun silam. dari membuat
atap ia bisa menghidupi keluarganya. Perlembar atap dijual mudin sebesar 1500
rupiah.
Sayangnya seiring
waktu tradisi membuat atap ini kian memudar. selain mudin tak banyak
lagi orang bisa membuat atap daun sagu. Ini disebabkan penggunaan atap seng lebih diminati warga ketimbang daun sagu
yang dianggap tidak memiliki daya tahan yang lama.


Comments
Post a Comment