Tambang Nikel Rusak Lingkungan Pulau Kabaena

Aktifitas penambangan nikel yang menjadi biang kerusakan lingkungan di Sultra. foto: Yoshasrul

Pulau Kabaena dikenal sebagai penghasil nikel terbesar di Kabupaten Bombana, Sulawesi Tenggara. Sejak tahun 2007-2012 lalu, Pulau yang luasnya kurang lebih 873 Km persegi dan dihuni 31.228 jiwa itu telah dikuasai sekitar 32 perusahaan tambang yang resmi mengantongi Izin Usaha Pertambangan (IUP). Total wilayah yang dikuasai perusahaan mencapai 62.500 Hektar. 

Data ini sejalan dengan data yang dirilis Dinas Pertambangan dan energi (Distamben) Kabupaten Bombana bahwa, dari 32 IUP yang ada, baru 12 IUP yang Tercatat melakukan kegiatan Produksi Eksport. Diantaranya, PT. Billy Indonesia, PT. Trias Jaya Agung , PT .Timah Explomin,  PT. Cromindo, PT. Cahaya Saga utama, PT. Sinar Saga Utama, PT. Tekonindo, PT. Tiga Mas, PT. Abalong, PT. Tambang Bumi Sulawesi, PT Alam harigh serta PT Anugrah Harisma Barakah.

Dari Daftar perusahaan tersebut, sedikitnya ada lima perusahaan  yang menambang, tepat diatas pemukiman warga. Di Kecamatan Kabaena misalnya,  terdapat perusahaan PT Trias Jaya Agung.  Perusahaan dengan luas konsesi 512 Ha ini,  menambang diketinggian sekitar 300 meter dan  cuma menyisahkan jarak sekitar 500 meter dari wilayah pemukiman Kelurahan Rahampuu dan Teomokole.

Di Kecamatan Kabaena Utara, terdapat PT. Cahaya Siaga Utama dengan luas konsesi 1.530 Ha, keberadaan tambang nikel ini mengancam wilayah area transmigrasi hingga lokasi persawahan masyarakat.

Sementara di Kecamatan Kabaena Selatan, terdapat PT Tekonindo, dengan luas konsesi sekitar 531 ha. Tambang nikel ini berdekatan dengan pemukiman Desa Pongkalaero dan Desa Puununu.   Sedangkan di Kecamatan Kabaena Timur terdapat perusahaan nikel PT Billy Indonesia. Posisi konsesinya mengancam Kelurahan Lambale dan sekitarnya. serta PT Timah Eksplomin yang mengancam warga di Kecamatan Kabaena Barat.

Aktifitas pertambangan terbuka yang dilakukan belasan perusahaan  ini tentu berdampak pada kerusakan lingkungan serius. Terhitung hanya berjalan lima tahun mulai beroperasi petaka bencana langsung menghampiri warga. Pulau Kabaena tiba-tiba diterjang banjir bandang. Di pertengahan Maret 2015 silam saja sedikitnya empat kecamatan terendam banjir. Banjir terjadi di wilayah –wiilayah tertentu yang daerahnya pernah bersinggungan dengan  usaha jasa pertambangan.
 
“Kami sangat kaget di pagi itu.  Tidak biasanya, intensitas air sungai mengalir sedasyat itu. Arusnya seakan menggemuruh. Air sungai yang dulunya bening berubah jadi kecoklatan dengan arus begitu kencang. Kami ketakutan sebab tidak lama, arus itu meluap ke rumah penduduk” kisah Nadia, warga Kabaena

Ibu empat anak ini menuturkan, dulunya banjir tapi tidak separah kejadian di Selasa pagi itu. Namun sejak beropreasi tambang diwilayah Kabaena, potensi banjir makin ganas dan meluas

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bombana merilis,  sedikitnya sekitar 255 rumah penduduk rusak direndam banjir.  Sejumlah perabot rumah tangga, hanyut terbawah air bah.  

Meski tidak ada korban jiwa dalam persitiwa itu,  tapi kerugian materi  mencapai miliaran rupiah. “Taksiran kami itu, kerugian sekitar  4,5 miliar rupiah. Sebab banjir bukan cuma merendam pemukiman tapi merusaki sejumlah fasilitas umum seperti jalan dan jembatan,” pungkas Ridwan Kabid penanggulangan bencana, BPBD Kabupaten Bombana. Sejumlah hewan ternak masyarakat dilaporkan hilang. Banjir tersebut, sambung Ridwan telah memicu kegagalan panen. Sebab sejumlah tanaman perkebunan warga, rusak terendam air. 

Di Kecamatan Kabaena misalnya, meluapnya sungai Lakambula menyuplai genangan air  setinggi lutut hingga pinggang orang dewasa. Warga ketakutan, sebab banjir itu merembes jauh, hingga merendam  perkampungan sepanjang satu kilo meter di Kelurahan Rahampuu.

“Ini banjir terparah yang kami alami. Kami heran, sebab air sungai tiba tiba membesar dengan intensitas arus yang tinggi. Entah dari mana datangnya. Dulu, biar hujan lama, arus sungai tidak segitu dasyat. Tapi sekarang kami mulai takut, jika hujan deras,” tukas Malik warga Teomokole.

Sementara di Kecamatan Kabaena Utara, sekitar 150 Hektar sawah petani ludes digenangi banjir. Para petani di sekitar  Desa Sangia Makmur tertunduk lesuh, akibat gagal panen. “Bukan cumah sawah kami, tapi banjir juga menghantam sekolah  SDN 111 Bombana.  Siswa diliburkan hamper seminggu. Sebab mobiler dan fasilitas penunjang kegiatan belajar mengajar rusak, direndam banjir” ujar Akbar warga Sangia Makmur.

Sedangkan Di Kecamatan Kabaena Selatan dan Kabaena Tengah, banjir menghempas dua jembatan umum.  Akibatnya, aktivitas lalulitas di jalan poros dua kecamatan ini sempat lumpuh total. (DAR)

Comments

Popular Posts