Prediksi Jika Teluk Jadi Daratan; Bencana Mengerikan (Mungkin) Terjadi
Banyak yang memprediksi
jika tidak ditangani sesegera mungkin, maka nasib Teluk Kendari benar-benar akan
menjadi daratan luas. Ya, bukan hal mustahil terjadi, sebab fakta pendangkalan
teluk saat ini terus terjadi akibat tekanan dari sedimentasi lumpur yang
terbawa air sungai, sampah rumah tangga hingga limpahan limbah B3 terus
mengendap di dasar teluk. Limbah ini berasal dari hotel, pasar, rumah sakit dan
industry yang beroperasi di sekitar kawasan teluk.
Luas Teluk Kendari pada tahun 1960 seluas 1.675 Ha, tahun 1995 seluas 1.125 Ha dan di tahun 2000 seluas 1.084 Ha. Diperkirakan dalam 10 tahun mendatang teluk kendari berubah menjadi daratan seluas 923,4 hektar, sehingga perairan Teluk Kendari tinggal 197,1 hektar. Lebih jauh lagi diprediksi sampai 24 tahun mendatang berubah menjadi daratan seluas 1.091,1 hektar, sehingga Teluk Kendari sisa seluas 18,8 hektar. Data yang diolah tim LSM Teras Kendari ini diperoleh dari rangkaian penelitian panjang para pihak, terutama dari pusat penelitian lingkungan hidup perguruan tinggi di Sulawesi Tenggara.
Yang menjadi pertanyaan, bagaimana jika Teluk Kendari benar-benar menjadi daratan luas?
Luas Teluk Kendari pada tahun 1960 seluas 1.675 Ha, tahun 1995 seluas 1.125 Ha dan di tahun 2000 seluas 1.084 Ha. Diperkirakan dalam 10 tahun mendatang teluk kendari berubah menjadi daratan seluas 923,4 hektar, sehingga perairan Teluk Kendari tinggal 197,1 hektar. Lebih jauh lagi diprediksi sampai 24 tahun mendatang berubah menjadi daratan seluas 1.091,1 hektar, sehingga Teluk Kendari sisa seluas 18,8 hektar. Data yang diolah tim LSM Teras Kendari ini diperoleh dari rangkaian penelitian panjang para pihak, terutama dari pusat penelitian lingkungan hidup perguruan tinggi di Sulawesi Tenggara.
Pakar ekologi
Universitas Haluoleo Kendari, Dr Ir La Ode Alwi MSc mengatakan, penyumbang
terbesar dari sedimen di Teluk Kendari berasal dari sejumlah sumber utama,
yakni, luapan lumpur dari Sungai Wanggu, Gunung Nipa-nipa- Nanga-nanga dan
aktivitas warga yang memanfaatkan kawasan di sekitar Teluk Kendari untuk
membangun rumah.
Khusus yang bersumber
dari aktifitas warga, memberikan sumbangsi kerusakan yang tidak sedikit, dimana
hampir sebagian besar sampah rumah tangga bermuara ke teluk. “Jadi teluk ini
ibarat tong sampah raksasa yang menampung sampah warga kota,”kata DR Alwi.
Karena itu, Pemerintah
Provinsi Sultra bersama pemerintah di tiga daerah kabupaten/kota perlu membuat
peraturan daerah bersama untuk menjaga dan menyelamatkan Teluk Kendari dari
ancaman pendangkalan. Peraturan daerah bersama sangat diperlukan karena Daerah
Aliran Sungai Wanggu sebagai penyumbang sedimentasi terbesar di dalam Teluk
Kendari meliputi wilayah ketiga daerah otonom itu.
“Begitu pula dengan
kawasan Gunung Nipa-nipa dan Nangananga, yang saat ini sebagian besar sudah
menjadi tempat pemukiman penduduk, meliputi tiga wilayah daerah, Kota Kendari,
Konawe Selatan dan Kabupaten Konawe,”kata La Ode Alwi. Yang menjadi pertanyaan, bagaimana jika Teluk Kendari benar-benar menjadi daratan luas?
Anda mungkin sudah tahu,
jika saat ini terdapat 22 sungai/kali yang melintasi Kota Kendari dan bermuara
ke Teluk Kendari. Sungai terbesar yang bermuara adalah Sungai Wanggu. Sungai
Wanggu terletak di Satuan Wilayah Sungai (SWS) (Lasolo-Sampara) di wilayah
Kabupaten Konawe Selatan dan Kota Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara (Sultra).
Sebagian besar daerah aliran sungai (DAS) Wanggu berada pada daerah pemukiman
penduduk, tambak dan areal pertanian. DAS Wanggu seluas wilayah 32.389 hektar membentang dari
pegunungan Boroboro, Wolasi hingga Teluk Kendari. Artinya, Sungai Wanggu yang menguasai Daerah
Aliran Sungai (DAS) seluas 339,73 km2
merupakan penyumbang sedimentasi terbesar mencapai 143.147 m3/tahun.
Pendangkalan dan penyempitan teluk kendari berdampak
sistemik jika dikaitkan dengan keberadaan 22 sungai yang bermuara ke teluk. Aliran sungai diprediksi akan terhambat ,
bahkan, berpotensi untuk membaliknya air ke pemukiman saat sungai sedang
banjir. Ini ditambah lagi dengan masivnya pencemaran dari hulu sungai yang semuanya bermuara ke Teluk Kendari. Termasuk, endapan
lumpur yang membuat semakin dangkalnya teluk. Kita tahu, daratan akan
mendesak lautan, sewaktu-waktu nanti akan muncul bencana air karena Teluk
Kendari tempat bermuaranya seluruh sungai. Saat daerah penampungannya dijadikan
daratan, secara langsung mengurangi tempat penampungan banjir sungai. Apakah
pemerintah sudah menyiapkan adaptasinya?
Dengan limpahan lumpur dan debit air, ditambah dengan
kondisi topografi tanah kota yang rendah,
maka Kota Kendari sangat rentan terdampak bencana banjir dan
membahayakan jiwa masyarakat Kota Kendari. Masalahnya, setengah
dari penduduk kota Kendari yang saat ini berjumlah kurang lebih 280.239 jiwa
orang kini terkosentrasi di 10 kecamatan dan 64 kelurahan. Dan sepertempat
jumlah penduduk itu, kini bermukim di
sepanjang pinggir teluk kendari.
Profesor DR Alwi, pakar
lingkungan Universitas Haluoleo mengungkap, bahwa, ancaman bencana alam berupa
banjir bukan mustahil akan terjadi di masa-masa yang akan datang. Apalagi
konsep pembangunan kota saat ini tidak berbanding lurus dengan kondisi
lingkungan pemukiman penduduk. Sebagai contoh, pembangunan jalan-jalan dalam
kota saat ini tidak seimbang dengan lingkungan pemukiman warga. Pembangunan
jalan raya lebih tinggi dari pemukiman/ halaman rumah warga.
Setidaknya, banjir yang
terjadi Tahun 2013, 2015 dan 2017 silam menjadi pelajaran paling berharga bagi
masyarakat Kota Kendari, dimana banjir kala itu merendam hampir seluruh Kota dan membuat warga harus
mengungsi meninggalkan harta benda mereka. Kita tentu tidak ingin itu terulang
kembali. Tak hanya
itu, sebagian dari mereka menggantung hidup dari hasil laut Teluk Kendari
seperti mencari kerang, ikan dan kepiting. Aktifitas pembangunan di dalam
kawasan teluk dipastikan akan merusak ekosistem perairan teluk. Teluk Kendari memiliki banyak
spesies ikan, kerang, plankton (semacam tumbuhan makanan ikan), dan zooplankton
(sejenis hewan sebagai makanan ikan). Ekosistem ini akan hilang saat terjadi
pengubahan ekosistem ke ekosistem yang lain. Zooplankton dan plankton sebagai
makanan ikan hilang secara perlahan-lahan. Ikan yang ada di sana juga akan
hilang, termasuk sarang ikan, seperti terumbu karang.
Berikut
masalah yang terjadi teluk kendari saat
ini:
1. Pendangkalan
Teluk Kendari akibat limpahan sedimentasi lumpur dari 22 sungai yang bermuara
di teluk kendari.
2. Penjualan
lahan yang dilakukan oleh para mafia tanah, onum warga, petugas BPN dan oknum
Pemkot Kendari
3. Pembangunan
jalan-jalan di kota yang kini lebih tinggi dari pemukiman penduduk
4. Penimbunan
laut oleh oknum yang menguasai lahan di teluk kendari
5. Reklamasi
yang dilakukan Pemerintah Provinsi Sultra yang membangun Masjid di tengah Teluk
Kendari
6. Reklamasi
yang dilakukan Pemkot Kendari dengan berdalih memangun smart poin di pinggir
teluk
2. Perubahan atas fungsi RTRW tanpa Peninjauan per jangka waktu 5 tahun Pemprov/Pemkot melanggar UURI no. 26 thn.2007 tentang Penataan Ruang.
3. Penebangan yang di lakukan terhadap hutan/pohon Mangrove melanggar UURI no. 27 thn. 2007 tentang perlindungan ekosistem, pengolahan kawasan pesisir dan mangrove.
4. Mati dan hilangnya ekosistem penyeimbang lingkungan.
5. Hutan Mangrove merupakan hutan lindung bukan milik pribadi.
6. Yang berdiam jangan mengeluh jika suatu ketika ada dampak yang akan menjadi bencana.
7. Korupsi nyata terhadap lingkungan, wewenang penegak hukum.



Comments
Post a Comment