Pantai-Pantai 'Teraniaya'
Seperti di banyak tempat indah,
selalu ada pertanyaan yang sama; kenapa lokasi wisata kita seperti 'teraniaya'
? Dibiarkan rusak dan tak terurus? Seperti nasib pantai Batu Gong kini,
terpuruk, bahkan, hilang dari hitungan peta kepariwisataan daerah ini. Tak ada
upaya pemerintah darerah, baik provinsi terlebih pemerintah konawe tergerak
memperbaiki asset wisata ini. Mungkin karena itu pula batu gong jadi
terbengkalai, kotor dan jadi lautan sampah.
Padahal jika mau jujur, berwisata paling pas untuk wisatawan lokal itu di sini, karena
cukup terjangkau dan lengkap amenitas. Infrastruktur jalan dari kota hingga ke
obyek wisata seluruhnya terbungkus aspal. Akses batu gong dari wilayah kota
kendari pun terbilang cukup dekat, karena ditempuh dalam tempo 20 menit saja.
Di tambah lagi banyaknya pedagang kaki lima yang bergantung hidup di wisata
pantai ini, menjadikan pantai batu gong sebagai wahana wisata yang sangat layak
di kunjungi wisatawan.
Batu gong dalam bahasa tolaki
disebut Watunggarandu. Penyebutan batu gong didasari penomena alam berupa
bebatuan karang di kawasan pantai yang berbunyi seperti gong saat dihajar
gelombang. Panjang garis pantainya mencapai 2 KM dengan lebar pantai kurang
lebih seratus meter. Warna pasirnya kehitaman, berbeda dengan pasir pantai
kebanyakan yang berwarna terang. Pasir pantai dari pulau atau tempat tropis
misalnya, berwarna terang karena mengandung unsur kalsium (kapur) yang tinggi.
Mengapa? Karena dihasilkan dari kerang laut kaya akan kalsium. Kerang-kerang
ini pecah menjadi kecil-kecil hingga seukuran pasir. Sementara itu, pasir
sungai yang berada di pedalaman pulau tinggi kandungan silikon. Sebab,
batu-batuan terbentuk dari beragam jenis silikat yang pecah menjadi pasir di
sana.Nah, pasir hitam pohara dihasilkan dari pertemuan dua arus berbeda (arus
sungai pohara dan laut di muara sampara.
Di waktu senggang saya selalu
menyempatkan diri ke pantai ini seorang diri dan sesekali bersama keluarga.
Tempatnya asyik dan eksotik. Tempat dimana saya betah untuk berlama-lama. Dari
sini Saya leluasa melihat padu padan hutan hijau dan laut biru dan menonton
buih berkejaran. Sesekali melempar jauh pandangan ke batas langit di timur.
Saya melewati hari di sini untuk mencipta barisan hurup menjadi tulisan ringan
dan juga beberapa bait puisi... “ buih tak pernah bosan melukis lautan, kala
ombak mencipta irama?angin menari tanpa busana. Ia terlihat begitu telanjang
disini”….dst…
Pastinya,setiap kali ke sini Saya selalu membawa kamera
dan laptop, dua benda yang menjadi "isteri kedua" saya , sembari duduk di bawah pohon
akasia yang rindang ditemani segelas kopi hangat, onde-onde, kue lapis, lopis
dan taraju. Lalu beranjak pergi saat battery laptop sudah habis.


Comments
Post a Comment