Mengintip Tradisi Karia Kalambe di Muna
Tradisi pingitan atau karia ini masih dipegang teguh masyarakat Muna, Sulawesi Tenggara setempat hingga kini, tradisi yang memakan waktu berhari-hari namun sarat makna.
Dalam adat suku wuna (muna), setiap anak perempuan yang akan memasuki usia remaja diwajibkan menjalani tradisi pingitan (karia) selama empat hari empat malam atau dua hari dua malam, tergantung kesepakatan antara penyelenggara karia dengan pomantoto. Dalam kaidah bahasa muna, karia berasal dari kata kari yang artinya (1) sikat atau pembersih, (2) penuh atau sesak. Sedangkan makna secara konkrit berarti ribut atau keributan. Arti lain adalah keramaian.
Acara karia selama empat hari, empat malam ditempa dalam sebuah tertutup (songi) yang dikemas khusus. Dalam masa pingitan, makan, minum dan jam tidur diatur. Ini dimaksudkan agar kelak dapat hidup dalam kesederhanaan. Sedangkan iringan tarian, nyanyian, pantun dan gong adalah isyarat pembinaan hidup untuk senantiasa menabur semangat dan percaya dalam menghadapi hidup ini.
Untuk mengawali prosesi karia, dimulai dengan mengambil air yang akan dighombo bersama peserta karia. Air diambil di tempat khusus yang ditentukan. Di masa lalu, air hanya boleh diambil di kali laende, sebagaimana diamanatkan raja muna, La Ode Maktubu Milano Wekaleleha (1903-1915). Kali laende ketika itu dinobatkan sebagai air alkausar. Tetapi sekarang, air dapat juga dapat diambil di kali yang airnya mengalir seperti oe bhalano dan fotune rete air.
Air tersebut diambil untuk mensucikan diri para wanita dan pria yang akan dipingit selama 4 hari di ruangan yang gelap gulita. Air itu nantinya dipakai mandi dan berwudu selama menjalani prosesi pingitan di rumah jabatan bupati muna.
Setelah proses pengambilan air diiringi dengan tetabuhan gong asli muna, dilanjutkan dengan panjat pohon pinang. Prosesi panjat pinang dilakukan selepas magrib. Pria yang ditunjuk memanjat pinang untuk mengambil mayang pinang (bhansano bea), tidak sembarang orang tetapi orang-orang pilihan yang dianggap mampu menjalankan tugas sesuai yang diamanatkan.
Salah satu syarat penting yang harus diperhatikan pemanjat pinang adalah tidak boleh bercakap-cakap, tidak boleh mendengarkan perintah dari siapapun setelah diperintahkan patande untuk memanjat mengambil inang pinang.
Setelah diberi isyarat, dengan cepat pemanjat pinang naik mengambil inang pinang. Hanya sekitar 7 menit lamanya, inang tersebut sudah dibawa sampai ke tanah dengan memakai sarung. Selanjutnya mayang pinang yang akan dijadikan bantal para kariya dibawa ke rumah raja terakhir muna di kamali.
Dengan memandikan para peserta karia baik peserta karia peremnpuan maupun laki-laki. Proses memandikan peserta karia ini dilalukan para tokoh adat. Makna dari dimandikannya para peserta ini sebagai simbol mensucikan diri dengans segala kotoran di tubuh. Setelah dimandikan kemudian didandani dengan kain putih mirip pakaian ihram orang berhaji.
Pada hari berikutnya para kalambe yang akan dipingit menunggang kuda dari rumah raja di kamali menuju rumah pingitan. Jaraknya lebih 1 kilometer, mereka menunggang kuda, dengan dasar agar mereka tetapi suci hingga di tempat pingitan karena tidak menyentuh tanah. selain itu, pada masa lalu belum ada mobil atau motor, satu-satunya kendaraan yang dapat mempercepat perjalanan adalah kuda.
Bagi kalambe yang dikaria, menunggang kuda terlihat memberikan kesan tersendiri. Sesekali terlihat mereka melempar senyum ke arah masyarakat muna yang berdiri di sepanjang jalan menuju galampano.
Di bagian depan rombongan karia adalah para tetabuh (tatabu) musik. Di belakang tetabuh, ada barisan perang yang dimainkan para pemuda pilihan. Disusul para tetua yang mengumandangkan takbir, baik saat akan berangkat dari kamali maupun sampai di rujab bupati. Para tetua ini berpakaian putih-putih yang menandakan kesucian.
Mereka yang dipingit belum dibolehkan masuk ruangan, sebelum prosesi takbir yang dikumandangkan para tetua belum selesai. Mereka boleh masuk setelah takbir dibalasa oleh para tetua yang telah menunggu di pintu masuk rumah. Setelah selesai, para rombongan satu persatu masuk ruangan diiringi musik gong dan gendang yang dimainkan sekitar 7 menit lamanya.
Barulah para kalambe yang dipingit masuk ke kamar khusus ( suo) bagi puti-putri raja dan songi untuk golongan masyarakat umum. Selepas sholat magrib, dilanjutkan dengan pembacaan alquran. Setelah itu, para kalambe dimandikan oleh pomantoto dilanjutkan dengan mengganti pakaian serba putih. Air yang dipakai mandi adalah air yang diambil dari kali laende. Air yang dipakai mandi itu terlebih dahulu dibacakan doa oleh imam. Air tersebut ada dua jenis yakni oe modaino yang dianalogikan air tersebut dapat menolak segala kejahatan. Saat mandi dengan oe modaino, para karia menghadap sebelah barat. Sedangkan oe metaano dimandikan dengan tujuan bermohon kepada tuhan agar mendapat ridho dari yang maha kuasa. Air jenis ini dimandikan dengan menghadap sebelah timur.
Air kedua ini harus disisakan di dalam kendi atau bhosu yang telah dimasukkan cincin. Air ini di ghombo selama 2 malam bersama peserta karia untuk dimandikan kepada peserta kafolego.
Setelah itu, mereka keluar ruangan bersama pada sanak keluarga untuk makan malam bersama. Mereka juga didoakan oleh imam atau pegawai sarah lainnya (modji).
Pada saat pembacaan doa, disertai dengan dulang. Isi dulang diperuntukkan bagi karia untuk dimakan bersama sebagai bekal ketika berada di dalama kaghombo.
Dalam masa pingitan, ini merupakan proses penempaan para gadis untuk mengetahui hakekat dirinya darimana ia berasal, sedang berada di mana, untuk apa keberadaannya dan selanjutnya hendak ke mana.
Khusus untuk karia laki-laki yang diistilahkan kafotai menerima berbagai pelajaran atau petuah-petuah dari berbagai tokoh masyarakat. Biasanya dilakukan pada malam terakhir. Mereka mendapat pelajaran berupa ilmu agama, ilmu adapt istiadat, ilmu kepemimpinan dan ilmu ketangkasan. Namun yang dominant adalah ilmu agama dan adapt istiadat. Ini dimaksudkan agar anak tersebut memiliki sifat dan kepribadian yang baik, terpuji serta tidak melakukan hal-hal yang bertentangan dengan adat dan istiadat.
Perangkat yang dimasukkan ke dalam kaeghomboha (pingitan) yakni (1) dua buah palangga (tempat yang dibuat dari lidi pohon aren dalam bentuk anyaman). Palangga berisikan beras, telur dan uang perak, (2) padjamara (lampu tradisional muna) yang telah dinyalakan, (3) polulu (kampak), kandole ( bantu alat tenun) adalah isyarat telah siap menghadapi kehidupan rumah tangga yang penuh tantangan, (4) bhangsano bea (kuncup bunga pinang), bhangsano ghay (kuncup bunga kelapa), daun kasambo lili dan dua buah kelapa sebagai isyarat alat untuk menumpangkan segala kotoran dan noda yang ada pada diri peserta karia.
Proses selanjutnya kalempagi diawali proses dhebalengka yaitu membuka pintu kaghombo (pingitan). Tahapan ini adalah proses perpindahan dari alam aj’san ke alam insani. Setelah mereka dimandikan, maka mereka dirapikan rambut dan keningnya (di bhindu) oleh petugas atau keluarga yang diserahi tugas. Semua bulu rambut dan kening ditadah pada piring yang berisi beras dan telur. Kemudian peserta karia dirias dengan model kalempagi. Makna filosofis yang dikandung disini yaitu proses peralihan dari remaja ke usia dewasa.
pada hari keempat menjelang magrib, para kalambe yang dipingit siap dikeluarkan dari ruang pingitan ke tempat bhawono koruma (panggung). Pada saat menuju panggung, mereka tidak boleh menginjak atau menyentuh tanah. Agar terhindar dari sentuhan tanah, biasanya dibentangkan kain putih dari rumah sampai panggung, tapi dapat juga di soda atau di papa oleh dua laki-laki yang berasal dari lingkaran keluarga dan masih hidup kedua orang tuanya.
pada saat diantar ke panggung, peserta pingitan tidak boleh menoleh ke mana-mana dan mata harus tertutup menandakan kekhusuan. Di panggung telah menunggu gadis-gadis yang telah dipilih dan diberi tanggung jawab duduk berjejer dalam keadaan bersimpuh. Gadis-gadis pendamping ini, kedua orang tuanya masih hidup. Mereka ini bertugas memegang surutaru (pohon terang yang terbuat dari kertas warna-warni dan dipuncaknya dipasangkan lilin yang menyala).
makna yang dikandung surutaru adalah cahaya atau nur ilahi yang akan menjadi penentu dalam hidup para peserta yang di karia sejak lahir sampai menuju akhirat nanti. Makna lain yaitu isyarat atay harapan agar kedepan memperoleh jalan hidup yang lebih cerah.
Setelah itu dilasnjutkan proses katandano wit// katandano wite adalah langkah keempat dalam proses karia. Proses ini dilakukan oleh pegawai sarah yang diawali dari peserta yang paling kanan duduknya, diatur berdasarkan urutan yang pertama adalah putri dari kopehano.
Tanah yang digunakan untuk upacara katandano wite, diambil di wadumapo kota muna. Tanah yang diambil selanjutnya diserahkan ke pomantoto.
Katandano wite yaitu sentuhan tanah pada ubun-ubun dan dahi kepada para peserta yang dipingit dengan etika pegawai sarah mengambil tanah dari tempat yang telah disediakan (piring putih) kemudian melakukan proses katandano wite dari ubun-ubun turun ke dahi dengan menggambarkan huruf alif. Ini memberikan isyarat bahwa mengenali diri. Katandone wite merupakan simpul pertemuan antara tanah (adam) dengan manusia atau perempuan yang dipingit (hawa). Setelah itu dilanjutkan dengan pembacaan doa selamat sebagai tanda syukur bahwa segala kegiatan telah selesai dan mendoakan agar peserta karia dapat menjalani kehidupan di muka bumi.
dari seluruh rangkaian karia ini, acara yang paling banyak ditunggu-tunggu para sanak keluarga maupun para undangan adalah melakukan tari linda. Tari linda yang diperagakan para peserta karia berbeda dengan linda yang ditampilkan pada acara hiburan, karena mereka hanya berputar di sekitar tempat berdiri.
saat menari linda, para sanak keluarga dan undangan ada yang memberikan hadiah dengan cara melempar kea rah panggung, tempat menari. Makna filosofisnya yaitu kenang-kenangan dari orang tua, keluarga dan saudara-saudara, teman sebagai tanda syukur dan gembira, sebab telah menempuh ujian yang berat. Mereka telah memahami segala seluk beluk persiapan hidup berumah tangga dan etika masyarakat.
keesokan harinya dilanjutkan dengan acara kahapui yaitu acara ritual pemotongan pisang yang telah ditanam. Pada acara ini dilakukan pogala yang diiringi bunyi gong dan gendang. Mengawali.acara pogala, pomantoto terlebih dahulu memecahkan belanga tanah sebagai aba-aba untuk memulai pogala. Setelah itu penari pogala beraksi dan saling berebut untuk memotong pisang lebih awal. Pemotongan ini harus putus satu kali.
sebagai penutup dari rangkaian ini adalah kahgorono bhansa atau kafolantono bhansa. Tempat untuk melakukan hal tersebut di sebuah sungai yang airnya mengalir. Filosofi acara ini adalah melepaskan segala etika buruk yang ada pada peserta karia.
Budayawan Muna Laode Amirudin menjelaskan, ritual pingitan,merupakan sebuah pintu gerbang menuju kedewasaan bagi kalambe kalambe munasehingga makna yang melekat pada tradisi ini harus diletakan sebagai sebuah filterisasi bagi kalambe muna dalam memaknai gesekan prilaku yang berkembang akibat modernisasi. Artinya, makna pingitan dijadikan sebagai pensucian dan kesiapan menuju kedewasaan,dan harus siap untuk bersikap dalam melihat realitas hidup yang semakin keras.
Laode Amirudin, menambahkan, makna atau hakekat pingitan kiranya terus dilakukan sehingga terlahir sebuah kesadaran moral bagi yang dipingit bahwa ia telah menanjak dewasa sehingga perlakuan dan pola sikap yang ia lakoni telah ada perubahan. Dan ritual ini,bisa menjadi sebuah ikon pariwisata, karena di sejumlah daerah/tradisi yang melekat pada masyarakat, selalu dikemas menjadi sebuah tontonan yang menarik/sehingga turis datang untuk melihat.
Artikel ini ditulis oleh wartawan senior Rustam



Comments
Post a Comment