Kaghati yang Mendunia
Dua belas tahun silam tepatnya Tahun 2007 Saya menemui salah seorang pembuat layang-layang berbahan daun kolope. Saya tak lagi mengingat nama beliau, tapi dokumentasi foto masih Saya simpan dengan baik. Saya memotret beliau saat membuat layang-layang tradisional Kaghati di rumahnya di kawasan Sawerigadi, Kabupaten Muna. Dalam ulasan wikipedia, kita mengetahui jika masyarakat Muna sudah mengenal dan memiliki bentuk layangan
tradisional yang bernama Kaghati. 'Kaghati' atau 'Kaghti' berarti layang-layang
dalam bahasa setempat.
Layangan khas Pulau Muna ini memiliki perbedaan jika
dibandingkan layangan biasa. Bahan dasar untuk membuat layangan ini adalah daun
kolope. Kaghati dibuat secara tradisional dengan bahan-bahan yang berasal dari
alam. Daun kolope atau umbi hutan sebagai bahan utama layarnya, kulit bambu
untuk rangka, dan serat nanas hutan yang sudah dipintal menjadi tali.
Seluruh bahan diolah secara alami hingga menjadi layangan yang
tahan air. Lembaran daun kolope yang telah dikeringkan lalu dipotong ujungnya.
Satu per satu daun itu dijahit dengan menggunakan lidi dari bambu sebagai
rangka layangan dan talinya dijalin dari serat nanas.
Kaghati diyakini sebagai peninggalan bersejarah yang telah
berusia ribuan tahun. Layangan ini pun menjadi legenda di masyarakatnya.
Mereka memiliki kepercayaan bahwa Kaghati akan menjelma sebagai
payung yang meneduhkan pemiliknya dari sinar matahari setelah meninggal dunia. Ketika
si pemilik layangan ini meninggal dunia, dia pergi sambil berpegangan pada tali
layangan dan bernaung di bawah layang-layang tersebut.
Selain itu, Kaghati menjadi media hiburan bagi petani Muna pada
masa lalu. Mereka biasanya menerbangkan layang-layang saat menjaga kebun.
Masyarakat Pulau Muna biasanya menerbangkan Kaghati setelah
panen raya. Layangan ini dapat disaksikan mengudara pada bulan Juni hingga
September. Sebab, pada bulan-bulan itu angin timur sedang bertiup kencang.
Kaghati ini kedap air sehingga tahan berada di udara selama
berhari-hari atau sekehendak pemiliknya kapan pun ingin diturunkan. Bila selama
tujuh hari layang-layang yang diterbangkan tidak jatuh, pemilik layang-layang
akan menggelar syukuran. Hobi ini telah ada sekitar 400 tahun di Muna. Bahkan,
Pulau Muna telah beberapa kali menjadi tuan rumah festival layang-layang.
Selain Kaghati, masyarakat Pulau Muna juga mengenal layangan
bernama kamanu-manu. Layang-layang ini terbuat dari tiga helai daun kolope yang
dirangkai dengan lidi (lio) dari bambu, dan dipasangi bulu ayam di sisi kiri
dan kanannya.
Setiap layangan memiliki ukuran kamumu masing-masing sesuai
seleranya. Suara yang dihasilkannya juga menjadi spesifik dan dapat mudah
dikenali. Kamumu adalah semacam pita suara yang dibuat dari daun nyiur yang
apabila ditiup angin akan bergetar dan menghasilkan bunyi khas, terutama saat
layangan dibiarkan terbang pada malam hari.
Bagi yang sering mendengar bunyi kamumu, dia akan segera dapat
menebak pemilik layang-layang yang sedang terbang di langit.
Pembuatan Kaghati
Membuat daun kolope menjadi kertas layang-layang tidaklah mudah.
Kini hanya segelintir orang di Pulau Muna yang bisa membuat kaghati kolope.
Kolope adalah tanaman yang familiar disebut gadung atau umbi hutan.
Kolope hanya merekahkan daunnya sekitar bulan Mei, saat musim
penghujan tiba. Namun saat itu daun masih terlalu muda. Dan baru sekitar bulan
Juli daun kolope sudah cukup matang untuk dipetik sebagai bahan layangan.
Kualitas terbaik daun Kolope adalah dipetik saat daun menua lalu
dipanaskan di atas bara api. Baru setelah itu daun dijemur selama dua hari.
Hasilnya bahan layangan yang elastis dan kedap air.
Untuk satu layang-layang, dibutuhkan sekitar 100 lembar daun
Kolope. Daun-daun itu direkatkan satu sama lain dengan menggunakan lio dari
bambu. Lembaran kolope tersebut dikepik dengan kerangka kayu dan disimpan
selama lima hari. Berikutnya, lembaran itu dirajut dengan tali agar menjadi
lembaran utuh kertas layang-layang. Sambil menunggu, dibuat kerangka
layang-layang dari bambu (patu-patu) dan talinya dari daun nenas hutan.
Daun nenas yang dipetik juga harus cukup tua, dan harus disimpan
selama dua hari sebelum diolah. Setelah kering, daun diambil seratnya dan
dipilin menjadi seutas tali yang siap dipakai. Satu helai daun nenas hutan
dapat menghasilkan 10 meter tali.
Saat ini, kaghati kolope masih dimainkan petani di Pulau Muna
terutama setelah masa panen. Saat terbaik untuk menerbangkan kaghati adalah di
bulan Juni hingga September, ketika bertiup angin timur yang cukup kencang
sehingga mampu menerbangkan layang-layang selama tujuh hari tanpa pernah
diturunkan.
Ukuran Kaghati dengan skala tertentu mampu membuat layang-layang
ini terbang tinggi dan sanggup mengudara selama beberapa hari. Ketangguhan
layang-layang kaghati membuat masyarakat asing menjadi kagum.
Layangan Pertama di Dunia
Selama ini layang-layang asal negara Cina atau Tiongkok diklaim
sebagai yang tertua di dunia. Namun, Seorang ahli layang-layang internasional
sekaligus antropolog bernama Wolfgang Bieck menyanggah fakta itu. Dia mengklaim
bahwa layangan dari Pulau Muna, Sulawesi Tenggara, merupakan layang-layang pertama
di dunia. Pernyataan Wolfgang itu berdasarkan temuannya di Gua Sugipatini, Desa
Liang Kobori sekitar delapan kilometer dari Raha, ibu kota Pulau Muna.
Ketertarikan Wolfgang yang juga salah seorang Counsultant of
Kite Aerial Photography Scientific Use of Kite Aerial Photography untuk
meneliti keunikan Kaghati berawal dari sebuah festival layang-layang
internasional, Berck sur Mer. Festival ini diselenggarakan di Prancis tahun
1997.
Kaghati keluar sebagai juara pertama pada lomba layang-layang itu
dan berhasil mengalahkan Jerman. Keberadaan layangan tradisional ini mulai
mencuri perhatian berbagai kalangan karena keunikan dan ketangguhannya.
Layangan ini berbahan lembaran daun, tapi sanggup mengudara tinggi dengan
durasi yang lama.
Di dinding batu Gua Sugipatini, Wolfgang menemukan lukisan
tangan manusia yang menggambarkan seseorang sedang menerbangkan layangan.
Lukisan itu dibuat menggunakan tinta warna merah dari oker atau campuran tanah
liat dengan getah pohon. Dia memperkirakan Kaghati telah berumur 4.000 tahun.
Keberadaan lukisan di gua itu diperkirakan berasal dari masa
9.000 hingga 5.000 sebelum masehi (SM). Artinya, layangan itu lebih tua usianya
dibandingkan permainan layang-layang di Tiongkok yang ditemukan pada 2.800 SM.
Hasil penelitian Wolfgang ini telah dipublikasikan pada sebuah
majalah di Jerman bertajuk The First Kitman pada 2003.
Kaghati kolope beberapa kali menjuarai festival layang-layang
internasional. Kemenangan ini membuat Pulau Muna terkenal di dunia.
Layangan ini sering kali diikutkan dalam berbagai festival
layang-layang, baik dalam skala nasional maupun internasional.Kaghati pernah
diterbangkan dalam Festival Layang-layang Nasional 2016 di Pantai Parangkusumo,
Kabupaten Bantul, pada 27 dan 28 Agustus 2016. Festival yang diselenggarakan
Perkalin (Perkumpulan Pekarya Layang-Layang Indonesia) dan Dinas Pariwisata ini
diikuti 45 peserta. Para peserta datang dari berbagai daerah, mulai dari Jawa
Tengah, Jawa Barat, Jawa Timur, Sumatra, Kalimantan, hingga Sulawesi.
Pada tahun 2014, Pemerintah Kabupaten Muna diminta untuk
mengusulkan Kaghati, menjadi warisan dunia kepada UNESCO. Permintaan tersebut
disampaikan Ketua Asosiasi Leggong Indonesia, Sari Majid saat menghadiri
pembukaan Festival Layang-layang Internasional di Raha
.
Rekor Dunia
\
Pertunjukan layang-layang menjadi salah satu suguhan di TAFISA
Games 2016. Layang-layang daun kolope asal Sulawesi Tenggara berpeluang meraih
rekor dunia.
Layang-layang yang terbuat dari daun kolope itu berhasil
diterbangkan di Arena Jakarta Garden City pada 8 Oktober 2016. Ukuran
layang-layang itu 5 meter x 4,3 meter. Para pembuat layangan itu adalah La
Masila, La Masili, Laode Pemusu, dan La Negara. La Masila bersaudara yang
merupakan generasi ketiga pecinta layang-layang daun ini mengumpulkan
sekitar1.300 daun kolope untuk dirajut.
Layang-layang itu pun mampu mengudara lebih dari 20 menit,
sebagai syarat untuk dicatat di Guinness World Records.
(sumber berita Wikipedia)








Comments
Post a Comment