Tari Perang (Umo'ara)

Tari Umo'ara yang pertontonkan saat festival Benua di Konawe Selatan. Dokumentasi foto milik Suwarjono/Jojon


Kibasan ta’awu (parang khas tolaki) saling beradu di udara. Diselingi teriakan keras dari dua pemuda yang adu nyali menjadi tanda dimulainya tari umoara. Parang tipis nan panjang yang dipegang saling membentur di dua tameng besi yang berfungsi sebagai perisai diri. Budaya ini hingga kini terus dilestarikan. 

Umoara adalah seni tari tradisional masyarakat suku tolaki yang artinya tari peperangan. Pada zaman dahulu, tarian ini biasanya dipentaskan untuk menyambut para panglima perang yang kembali dari medan perang,dan juga untuk menyambut tamu - tamu kerajaan. 


Tari perang (Umoara) suku Tolaki di Mekongga/Kolaka yang berhasil didokumentasikan oleh
Dr. Johannes Elbert tahun 1911

Dahulu tari umo'ara menggunakan karada atau tombak sebagai alat dan tameng besi sebagai perisai. Walau masih ada sebagian yang menggunakan  tapi hampir sebagian besar kini menggunakan parang atau taawu dalam memainkan tarian ini.
  Kini Umoara biasanya ditarikan saat upacara pengukuhan tokoh adat, penerimaan tamu agung dan juga saat pembukaan acara pernikahan para keluarga anakia. Generasi muda Tolaki kini semakin sedikit yang pandai memainkan taruan perang ini, karena itu melalui berbagai komunitas muda Tolaki berusaha terus melestarikan warisan nenek moyang ini agar tidak tergerus zaman.   

Comments

Popular Posts