Pilih Mana Wisata Sungai Air Panas atau Wisata Kolam Air Panas?

Sungai air panas di Desa Kaindi yang berpotensi jadi kawasan wisata sauna berbasis sungai. foto: Yoshasrul

Jika diberi pilihan antara berwisata di sungai air panas dan  di kolam air panas, maka saya akan memilih berwisata di di sungai air panas. Kenapa? Selain karena lebih alami juga karena air di sungai terus mengalir sehingga tidak meninggalkan bekas air mandi orang lain, hehehe. Just kidding. Ya, Saya lebih tertarik pada tata kelola wisata sungai air panas, ketimbang wisata air panas yang kini banyak dikembangkan pemda di beberapa kabupaten di Sulawesi Tenggara.Wisata air panas sangat identik dengan proyek pemerintah yang senang bermain semen beton membentuk kolam untuk wisatawan berendam. Bagi saya, ini proyek latah-latahan yang hanya mengikut model atau trend wisata di tempat lain. Tak ada sama sekali kreatifitas di sana. 

Penampakan Sungai air panas kaindi Konawe Selatan. foto: Yoshasrul
Di Sulawesi Tenggara wisata air air panas model semen beton terdapat di beberapa lokasi, seperti wisata air panas Sonai di Konawe dan wisata air panas Kaindi yang dibangun Pemerintah Konawe Selatan. Ada juga wisata air panas yang dibangun pemda Konawe Utara di daerah Wawolesea, tapi beruntung masih pemda setempat masih bisa mempertahan unsure keaslian obyek wisata kolam alami dan hanya memoles sedikit di bagian bangunan rehat.

Muhammad Aswan Yasin, Kepala Bidang Pariwisata Kabupaten Konawe Selatan saat melakukan explorasi wisata di desa kaindi, kecamatan Lainea. foto: Yoshasrul

Material sungai berupa bebatuan yang terdapat di kawasan sungai kaindi. foto: Yoshasrul 


Khusus obyek wisata air panas di Kabupaten Konawe Selatan memang sedikit unik, air panas yang dihasilkan dari sumber panas  bumi terdapat di dua lokasi berbeda di Kecamatan Lainea, yakni, di Desa Pamandati, Desa Kaindi dan Desa Lainea. Khusus air panas Kaindi berada di posisi yang lintasi sungai sehingga air sungai benar-benar panas.

Saat melakukan explorasi wisata di kawasan ini, sensasi atmosfir wisata yang luar biasa besar ini sudah dapat dirasakan. Betapa tidak kita telah dapat menyaksikan keindahan panorama alam disepanjang sungai. Kepulan mirip asap memutih terlihat di kejauhan, tepatnya di sebuah kawasan hutan di Desa Kaindi.

Untuk menjangkau tempat itu, perlu melewati rute jalan setapak, setelah melalui areal perkebunan rakyat. Disarankan pula, saat menjangkau tempat itu, Anda perlu menyewa gaet local yang siap melayani perjalanan anda.

Rerimbunan hutan jati yang banyak tumbuh di kawasan itu menjadi nilai tambah perjalanan ke kawasan itu. Namun aksi illegal loging menjadikan kawasan itu bergeser dari bentuk aslinya. Sebelum tiba di lokasi, kita akan mendapati sebuah bangunan permanen yang sudah tak terpakai.
Melihat bentuknya, tampak bangunan itu mirip bak penampungan air. Ukuran bangunan seluas 3 X 7 meter persegi dan letaknya dekat aliran sungai kecil yang membentang. Sejarahnya, bak air ini dibangun di masa pendudukan Jepang.  Infomasi dari warga setempat menyebut, di jaman Nippon berkuasa,  kawasan ini dijadikan lokasi wisata bagi orang-orang jepang. Petinggi Nippon menjadikan sungai ini sebagai lokasi sauna mereka, begitulah cerita warga di sana. Sungai Kaindi memiliki lebar sekra 7 meter dan memiliki kedalam sekira 40 cm. 
Lokasi kolam air panas kaindi, kabupaten konawe selatan. foto: FB

Tak heran jika orang-orang Jepang sangat menyukai sensasi wisata sungai air panas ini. Air yang panas itu, disuplai dari sumber air panas yang ada di kawasan bukit hutan yang letaknya sekitar 1 KM. Sedang, air yang dingin, diambil dari sebuah sungai kecil yang mengalir sekitar 50 meter dari bak penampungan.

Ketika jarak semakin mendekati air panas, maka hawa panas sedikit demi sedikit akan terasa. Demikian pula, bau belerang. Saya mencoba mencari tau dari mana sumber panas ini dan ternyata asalnya dari sumber panas bumi yang berada di kawasan ini. Pori-pori tanah yang mengeluarkan hawa panas dan dilintasi air sungai inilah yang menyebakan titik didih terjadi. 

Selain di sungai, ada beberapa lokasi tempat air panas lainnya. Terletak di bawah sebuah bongkahan batu besar. Diperkirakan titik didih air mencapai 40 derajat celcius.Untuk mengetes titik didih air cukup mudah, dengan menaruh beberapa butir telur ke dalam air panas itu, maka hasilnya yang diperoleh cukup menakjubkan, sekitar 10 menit telur pun matang. Sungai air panas ini memang mengundang decak kagus sekaligus msterius, karena tidak adanya gunung berapi di wilayah ini. Ilmuwan mempercayai jika memanasnya suha air akibat adanya lempengan geothermal di kawasan ini.

Kondisi di lokasi situs sejarah berupa kolam sauna peninggalan jepang di Sungai Kaindi. foto: DR.Sabrillah Taridala
Selain di Desa Kaindi, di Desa Pamandati juga terdapat sumber air panas. Lokasinya tak jauh dari pemukiman penduduk yang sudah dibuat dalam bentuk kolam. Sejumlah sarana wisata juga sudah dibangun di sana, diantaranya gazebo, tempat sampah dan kolam pemandiannya.
Nah inilah yang harusnya didorong agar ada pembeda , pemerntah daerah sebaiknya  mengembangkan kawasan sungai air panas ini menjadi obyek wisata serta menyelamatkan situs-situs sejarah yang ada di kawasan ini. 

Comments

Popular Posts