Merana di Tanjung Batikolo
![]() |
| Martinus petugas jagawana Tanjung Batikolo. foto:yoshasrul |
Usia Tinus sudah
beranjak di kepala enam. Usia yang cukup sepuh. Namun semangatnya menjalankan
tugas, tetap berkobar. Setiap harinya,
petugas jagawana taman margasatwa Batikolo ini harus mengawasi sekaligus
menjaga kawasan hutan lindung batikolo seluas empat ribu hektar. Berbekal
parang, sebagai penjaga diri, setiap hari Ia harus masuk hutan ke luar hutan
mengawasi area kawasan yang di lindungi negara ini, seorang diri.
Kawasan teluk batikolo
sendiri merupakan kawasan hutan lindung tempat habitat berbagai jenis
margasatwa endemik Sulawesi, diantaranya
anoa dan burung maleo. Kawasan ini juga terdapat berbagai jenis kayu dan
tumbuhan-tumbuhan yang hanya hidup di pulau Sulawesi.
Sayangnya, maraknya aktifitas
penjarahan kayu dan perburuan satwa, membuat populasi margasatwa di kawasan ini
menyusut tajam. Bahkan, saat menyambangi kawasan budidaya burung maleo di
sebelah utara Tanjung Batikolo, jejak penangkaran burung khas sulawesi ini
sudah tidak ada, dan yang tersisa hanya bekas lubang telur maleo saja. Begitu
pula lokasi penangkaran anoa kini sudah tidak ditemukan lagi.
Bertugas seorang diri
tentu tidak sepenuhnya membuat hidup pria dua orang anak ini bisa leluasa
menikmati hidup seperti orang kebanyakan. Minimnya sarana yang disediakan
pemerintah kian membuat tugas tinus semakin berat. Sejumlah sarana, seperti
perahu pengawasan dan radio panggil, tidak lagi bisa berfungsi baik, karena
tidak adanya dana untuk perbaikan dan suplay bahan bakar. “Semua peralatan ini
sudah berusia tua, jadi sudah tidak berfungsi dengan baik,”kata Tinus.
Kondisi ini, membuat Tinus
tidak tidak bisa bergerak dengan leluasa melakukan pengawasan seluruh kawasan. Apalagi menghadapi para pelaku ilegal logging
dan dan pemburu liar yang beroperasi dengan kapal dan peralatan modern, membuat
tinus tidak dapat berbuat banyak mencegah terjadinya aksi penjarahan di kawasan
hutan yang dilindungi negara tersebut. Bahkan pria berdarah Ambon ini punya
banyak pengalaman miris. “Pernah saya merasakan nyaris kehilangan tempat
tinggal, setelah sejumlah pencuri kayu mencoba membakar rumah ini,”ungkap Tinus.
Ia sadar pekerjaannya
mengandung resiko besar, sebab banyak sekali orang (khususnya pelaku illegal
loging ) tidak senang dengannya yang terus mengawasi dan melarang pencurian
kayu dan satwa di tempat itu. “Tapi mau bagaimana lagi, sudah tugas ya harus
dijalani,”ujarnya.
![]() |
| plang kawasan Tanjung Batikolo. foto: Yoshasrul |
Tinus sendiri terpaksa memboyong
Rohana, isterinya ke tanjung batikolo untuk
hidup bersama di daerah terpencil itu selama lebih dari dua puluh tahun.
Untuk bertahan hidup mereka pun membangun rumah dan menanam pohon kelapa di
kawasan itu serta memelihara hewan
peliharaan seperti ayam dan anjing.
Tinus sendiri pernah
mengajukan pensiun dini namun dari instansi tempatnya bernaung belum memberikan
ijin dan membuatnya harus rela bertugas hingga masa pensiun tiba. Pria berambut
kriting hanya berharap pemerintah bisa memberikan perhatian besar pada
penyelamatan hewan endemik yang hidup di kawasan itu.
Kisah para pegawai yang
bertugas di daerah terpencil seorang diri banyak tercecer di bumi berjuluk
negeri anoa ini, yang memang tidak cukup mengenakkan. Selain harus berjuang
menjaga aneka satwa di areal kawasan hutan lindung dari penjarahan, juga
diperhadapkan dengan minimnya sarana prasarana yang diberikan pemerintah. Seperti cerita Tinus, petugas
kehutanan di Taman Suaka Margasatwa Tanjung Batikolo, Kabupaten Konawe Selatan itu,
merena dan pasrah mengakhiri karir di daerah terpencil. Bersama keluarga
kecilnya terpaksa memikul tugas berat itu berpuluh tahun lamanya.




Comments
Post a Comment