Jejak Sejarah di Sungai Air Panas Kaindi
![]() |
| Kolam sauna yang dibangun di jaman pendudukan Jepang merupakan lokasi wisata air panas masa itu. foto: DR.Sabrillah Taridala |
Tahun 1944, setahun sebelum Hiroshima dan Nagasaki luluh lantak oleh bom atom, perwira muda Nakamura masih menyempatkan diri berendam dalam kolam ini. Kolam kembar berbentuk opel berukuran 3 x 7 meter ini hingga kini masih kokoh berdiri di sisi kanan sungai Kaindi, merupakan kolam sauna yang saya yakin dibangun dari praktik romusha atau kerja paksa. 74 Tahun kemudian saya mencoba melakukan hal yang sama seperti dilakukan perwira Nakamura, dengan berendam di lokasi yang sama, tetapi saya memilih berendam dalam sungai air panas Kaindi.
![]() |
| Kondisi kolam sauna yang masih berdiri kokoh kini ditutupi semak belukar dan lumpur. foto: DR.Sabrrillah Taridala |
![]() |
| Bentuk kolam sauna jepang yang berhasil didokumentasikan tim explorasi wisata konsel. foto: DR.Sabrillah Taridala |
Namun sebelumnya, Saya Anda harus tau juga bahwa, menjangkau tempat itu tidaklah sulit, karena
melewati rute jalan tani yang struktur jalan perkerasan yang dapat dilalui kendaraan
roda dua maupun roda empat.
Pintu masuk kawasan ini dapat dilewati
dari beberapa tempat, baik melewati desa jalan tani di desa Pamandati, Desa
Pangan Jaya mauupun lewat jalan usaha tani desa Kaindi sejauh setengah kilo
meter. Saat tiba di bibir sungai Anda dapat memarkir kendaraan di area yang
cukup rata dan mampu menampung 100 unit sepeda motor.
Dari area inilah kita berjalan kaki
sejauh 500 meter ke lokasi sumber air panas bekas peninggalan jepang. Rerimbunan
hutan jati yang banyak tumbuh di kawasan itu menjadi nilai tambah perjalanan ke
kawasan itu. Namun aksi illegal loging yang terjadi beberapa tahun lalu telah
menjadikan kawasan itu bergeser dari bentuk aslinya.
Begitu tiba di lokasi, kami mendapati
sebuah bangunan permanen yang sudah tak terpakai. Sebagian besar bangunan sudah
tertutup semak belukar dan lantainya sudah tertimbun lumpur yang kini telah
mengeras.
Dari bentuknya, bangunan kembar itu
mirip bak penampungan air berbentuk opel berukuran 3 X 7 meter persegi dan letaknya dekat aliran sungai
kecil yang membentang. Sejarahnya, bak air ini dibangun di masa pendudukan
Jepang yang konstruksinya dikerjakan oleh warga pribumi melalui praktik romusha atau kerja paksa. Uniknya, kolam sauna ini dibuat untuk menampung air panas dan air dingin yang disuplai dari sungai di sampingnya. Air sungai ini dialirkan melalui pipa dan disaring dalam kolam kecil di sisi kiri kolam, sebelum akhirnya air disuplay menuju kolam besar tadi.
Rancangan kontruksi kolam sauna boleh dibilang cukup kuat sebab hingga kini sebagain besar bagian-bagian bangunan masih kokoh berdiri dan hanya di bagian pondasi luar saja khususnya yang berada dekat sungai yang mengalami kerusakan akibat tergerus banjir. Kolam sauna jepang ini mampu menampung sampai 10 orang.
Infomasi dari warga setempat menyebut, di jaman Nippon berkuasa, kawasan ini dijadikan lokasi wisata bagi orang-orang jepang. Bahkan, petinggi Nippon menjadikan sungai ini sebagai lokasi sauna mereka. Mungkin karena kawasan hutan yang asri dan air sungai yang bersih. Sungai Kaindi sendiri memiliki lebar sekira 6 meter dan memiliki kedalam sekira 20-30 cm dan membelah kawasan sejauh 2 KM dan bermuara ke laut Lainea.
Rancangan kontruksi kolam sauna boleh dibilang cukup kuat sebab hingga kini sebagain besar bagian-bagian bangunan masih kokoh berdiri dan hanya di bagian pondasi luar saja khususnya yang berada dekat sungai yang mengalami kerusakan akibat tergerus banjir. Kolam sauna jepang ini mampu menampung sampai 10 orang.
Infomasi dari warga setempat menyebut, di jaman Nippon berkuasa, kawasan ini dijadikan lokasi wisata bagi orang-orang jepang. Bahkan, petinggi Nippon menjadikan sungai ini sebagai lokasi sauna mereka. Mungkin karena kawasan hutan yang asri dan air sungai yang bersih. Sungai Kaindi sendiri memiliki lebar sekira 6 meter dan memiliki kedalam sekira 20-30 cm dan membelah kawasan sejauh 2 KM dan bermuara ke laut Lainea.
Ketika jarak semakin mendekati air
panas, maka hawa panas sedikit demi sedikit akan terasa. Demikian pula, bau
belerang. Saya mencoba mencari tau dari mana sumber panas ini dan ternyata
asalnya dari sumber panas bumi yang berada di kawasan ini.
Pori-pori tanah yang mengeluarkan hawa
panas dan dilintasi air sungai inilah yang menyebakan titik didih terjadi. Selain
di sungai, ada beberapa lokasi tempat air panas lainnya. Terletak di bawah sebuah
bongkahan batu besar. Titik didik air diperkirakan mencapai 40 derajat celcius.
Untuk mengetes titik didih air cukup
mudah, dengan menaruh beberapa butir telur ke dalam air panas itu, maka
hasilnya yang diperoleh cukup menakjubkan, sekitar 10 menit telur pun matang.
Sungai air panas ini memang mengundang decak kagum sekaligus diselimuti
misteri, karena tidak adanya gunung berapi di wilayah ini. Ilmuwan mempercayai
jika memanasnya suha air akibat adanya lempeng geothermal di kawasan ini.
Lokasi Indonesia yang berada di ”ring of
fire” dunia dengan banyaknya gunung api disamping memberikan dampak yang
berbahaya juga memberikan anugerah akan tersedianya energi yang ramah
lingkungan yaitu panas bumi. Potensi energi panas bumi yang dimiliki oleh
Indonesia mencapai sekitar 28.000 MW dengan potensi sumber daya 13440 MW dan
reserves 14.473 MW tersebar di 265 lokasi di seluruh Indonesia.
Potensi panas bumi di Sulawesi Tenggara
ini pernah dibahas dalam rapat kerja antara Departemen ESDM dengan Komisi VII
DPR RI di era pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono, yang menyebutkan ada
sejumlah titik panas bumi yang dimiliki Sulawesi Tenggara dan memiliki potensi
untuk dimanfaatkan di sektor kelistrikan.
Titik energi panas bumi tersebut tersebar di
lima kabupaten, yakni Kecamatan Mangolo (Kolaka), Puriala dan Amohalo (Konawe),
Laonti dan Lainea (Konsel), Torah, Kalende, Kanale, Kabangka (Buton), dan Gonda
Baru (Baubau). Dan Hasil penelitian menunjukkan potensi panas bumi di Kecamatan
Lainea, Kabupaten Konawe Selatan Sulawesi Tenggara mampu membangkitkan listrik
dengan daya 40 megawatt (MW) atau lebih dari separuh daya yang telah dimiliki
Sultra saat ini yakni sekitar 68 MW.
Selain di Desa Kaindi, di Desa Pamandati
juga terdapat sumber air panas. Lokasinya tak jauh dari pemukiman penduduk yang
sudah dibuat dalam bentuk kolam. Sejumlah sarana wisata juga sudah dibangun di
sana, diantaranya gazebo, tempat sampah dan kolam pemandiannya.
Nah inilah yang saya sedikit sayangkan,
, pemerntah daerah lebih memilih membangun kolam air panas ketimbang
mengembangkan sungai air panas ini menjadi obyek wisata.Padahal jika branding
wisata sungai air panas ini dilakukan maka saya mau bertaruh obyek wisata ini
akan diserbu wisatawan lokal maupun mancanegara.
Saya membayangkan mba miyabi berendam di
sini.Just kidding hehehe...






Comments
Post a Comment