Hikayat Mekongga, Gunung Tertinggi di Sulawesi Tenggara
Dalam hikayat nama Mekongga berasal dari cerita rakyat setempat yang berkisah tentang pertempuran seorang kesatria dan seekor burung elang. Menurut hikayat, suatu masa puncak gunung ini dihuni oleh Kongga, yaitu seekor burung raksasa. Para penduduk sering resah karena sang burung sering membuat onar dan mengganggu kehidupan rakyat. Kemudian tampillah seorang bangsawan gagah berani yang berhasil menewaskan burung raksasa. Sebagai hadiahnya, raja setempat menikahkan putrinya dengan si bangsawan. Dan untuk mengenang jasa besar itu, kawasan tersebut diberi nama Mekongga.
Membentang di sisi utara wilayah
Kabupaten Kolaka Utara. Kawasan pegunungan ini merupakan jajaran pegunungan
Verbeck yang puncak-puncaknya terdiri dari jenis batuan karst dataran tinggi.
dengann puncak tertinggi 2.620 MDPL, gunung ini merupakan gunung tertinggi
di Provinsi Sulawesi Tenggara.
![]() |
| Dokumentasi foto EIGER pada Ekspedisi 28 Gunung | 28 Oktober 2017 |
Pegunungan Mekongga, juga ideal untuk kegiatan
trekking. Untuk mencapai pegunungan ini dimulai dari Kota Kendari yang
merupakan ibukota Sulawesi Tenggara, kemudian dari sana dilanjutkan dengan
menggunakan angkutan bus dengan tarif Rp.50.000,- per orang menuju Kecamatan
Ranteangin, Kabupaten Kolaka Utara. Waktu tempuh Kendari - Kolaka Utara
adalah sekitar 6 jam melewati jalan poros propinsi yang cukup baik. Setelah itu menuju Desa Tinukari sekitar satu jam.
Dari Desa Tinukari pegunungan
Mekongga terlihat cukup jelas. Desa yang dihuni oleh suku Tolaki Mekongga yang
merupakan turunan dari kerajaan Mekongga. Jalur pendakian hanya ada desa
Tinukari ini.
Menuju Camp Satu
Perjalanan dimulai setelah
menyelusuri jalan aspal desa, lalu ke jalan setapak melalui perkebunan kakao
warga. Beberapa menit kemudian para pendaki akan menemukan sebuah sungai
dengan lebar sekitar 10 meter dan arusnya cukup deras. Melewati sungai harus
melalui jembatan titian dan ada juga perahu rakit milik warga. Sungai
yang dilalui merupakan percabangan dua besar masing-masing sungai Mosembo dan
sungai Tinukari.
![]() |
| Dokumentasi foto EIGER pada Ekspedisi 28 Gunung | 28 Oktober 2017 |
Sepanjang jalan ini tampak sudah
tertutup semak belukar serta banyak ditemukan kotoran sapi. Konon
sapi-sapi ini milik DI/TII dulu. Sapi-sapi tersebut sengaja dilepas di hutan
ini sebagai ransum para tentara DI/TII jaman perang. Saat mencapai camp satu,
kita akan menemukan sebuah pondok kayu milik pencari rotan yang berada
pada ketinggian 490 m dpl. Waktu tempuh dari desa Tinukari ke camp satu sekitar
7 jam.
Jalur pendakian camp satu ke camp
dua masih menggunakan jalur jalan PT HBI. Camp dua sendiri berada berada pada ketinggian 1.480 m dpl.m dpl. Di lokasi ini panorama mulai terbuka luas. Disekitar
kawasan banyak ditemukan vegetasi tumbuhan kayu, perdu, lumut dan kantong
semar. Di sisi timur punggung-punggung pegunungan Mekongga.
Setelah meninggalkan jalur logging
PT HBI, para pendaki akan menyaksikan gunung Mosembo diketinggian 1.900 m dpl.
Jalur pendakian sedikit berliku dan naik turun punggungan. Para pendaki harus
benar-benar jeli agar tidak salah menaiki punggungan, karena bentuk punggungan
gunung ini cukup mirip. Dari jalan setapak para pendaki akan mencapai daerah
bebatuan yang di sebut Musero-sero diketinggian 2.320 m dpl.
Daerah Mosero-sero ini, oleh
penduduk setempat diyakini merupakan pusat kerajaan jin. Disini terdapat sebuah
batu yang seperti meriam dan moncongnya menghadap arah kiblat. Di daerah ini
dapat disaksikan tebing-tebing batu yang kokoh. Setelah sehari berjalan
baru para pendaki akan mencapai camp tiga. Di camp tiga ini lokasinya berupa
dataran seluas lapangan bulu tangkis yang berada di puncak bukit. Ketinggiannya
mencapai 2.520 m dpl. Nah, dari Camp III inilah pendaki akan melihat dengan
jelas puncak gunung mekongga yang agung.
![]() |
| Dokumentasi foto EIGER pada Ekspedisi 28 Gunung | 28 Oktober 2017 |






Comments
Post a Comment