Belajar dari Kisah Sukses Mente Mubaroq

Dokumentasi foto: Yoshasrul

Pertama kali meliput tentang mete, pemilik UD Mente Mubaraq masih menempati rumah papan berukuran rumah biasa. Karyawannya pun masih terbatas, mungkin hanya ada tiga atau empat orang saja. Namun berkat kerja keras dan konsisten, UD Mente Mubaraq kini meraih sukses sebagai penjual mete terbesar di Kota Kendari. Muhaimin, sang pemilik kini membangun rumah toko berlantai tiga di lokasi yang sama di kawasan baypass Kendari. Pastinya, kisah sukses ini memang tidak diraih dalam sekejab, tetapi butuh waktu bertahun-tahun agar bisa membangun kerajaan bisnis ole ole khas Sulawesi Tenggara. 



Pemilik mente Mubaroq boleh dikata adalah salah satu perintis ole-ole khas mete di kota ini. Kalau pun ada masih bisa dihitung jari dan nasibnya banyak yang gulung tikar. Muhaimin bahkan membuka ruang bagi publik untuk bisa menyaksikan cara mengemas jambu mente dan packing proses di tempat. Pembeli bisa menyaksikan langsung proses pengemasan mete oleh para pekerja yang rata-rata masih mahasiswa ini.
Aktifitas pengemasan jambu mete. foto: Yoshasrul

Era digitalisasi, bisnis mete mubaroq pun makin laris melalui penjualan di media social serta online market. Saya masih teringat, dulu, pemiliknya yang asli lombe memasarkan mete secara manual dan hanya mengandalkan toko semata wayangnya itu sebagai lokasi jualan, artinya, Ia hanya melayani orang-orang di tempat itu. 

Seiring dengan semakin familiarnya ole-ole mete, para pelaku usaha mete di Kota Kendari semakin kreatif pula dalam membuat pilihannya diantaranya membuat mete dalam bentuk penganan atau cemilan. Namun membuat mete tidaklah mudah karena harus melalui sejumlah proses tahapan seperti memisahkan kulit mete gelondongan dengan biji bagian dalam. Kulit mete sendiri mengandung getah yang kuat dan sulit hilang, jika mengenai tangan bisa mengalami iritasi kulit. Konon kulit mete bisa diolah menjadi bahan bakar avtur.
Proses pemisahan kulit mete gelondongan memang tidak mudah, selain harus melalui proses pengupasan kulit, juga harus melalui penjemuran berulang-ulang. Karena kerumitan itulah, banyak pengusaha mete lebih memilih membeli mete jadi alias sudah melalui proses pengupasan kulit. Nah biji mete inilah yang diolah menjadi berbagai panganan khas yang bisa dibawa pulang.

Di tempat ini biji mete diolah melalui proses pemisahan antara biji mete utuh dan biji mete yang pecah. Biji mete utuh biasa disebut biji super dan biji pecah disebut mete biasa. Proses pemilahan ini dilakukan karena berpengaruh pada urusan harga.

Jika mete super dijual berkisar Rp 110.000 per kilogram, maka biji biasa dijual dengan harga delapan puluh ribu rupiah perkilogram. Biasanya saat hari raya, harga mete pun akan naik.

Bagi penjual mete, ada beberapa kiat agar mete terus dicari konsumen, utamanya bagi para pembeli ole-ole. Agar jenis dagangan tidak menoton, Saleh dan kawan-kawan mengkreasikan produk mete dengan membuat penganan ringan, misalnya, kue tradisonal bagea dari sagu yang dipadu padangkan dengan biji mete/ begitu juga kue  baruasa dan teng-teng dan telah dikemas cantik. Pembelin juga memilih rasa mete yang berbeda seperti manis dan asin.

Mete dan aneka kue mete sangat laris manis, tatkala ada ivent-ivent lintas daerah. Dimana dengan adanya ivent ini maka banyak warga dari provinsi lain yang berdatangan. Tentunya mereka rata-rata membeli makanan khas dari kendari, sepulangnya ke daerah masing-masing.

Kebanyakan para pembeli yang berasal dari luar kota seperti makassar dan jawa, seperti yang diungkapkan Alex  salah satu penyuka mete asal Kota Makassar.

“Setiap kali ke Kendari saya selalu membeli mete untuk ole-ole,”kata Alex  penyuka mete.

Demikian pula Baharuddin, salah pelanggan mete Lombe Mubarak. “Gurih dan enak,”katanya.  
Di Sulawesi Tenggara sendiri, komoditi jambu mete banyak terdapat di daerah kepulauan, seperti pulau muna dan pulau buton. Tak heran produk satu ini menjadi komoditi perkebunan andalan  daerah berjuluk bumi anoa ini.Yoshasrul


Comments

Popular Posts