Mari Belajar Konservasi Kima di Toli-Toli
![]() |
| Lokasi konservasi Kima di Daerah Toli-toli, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara. foto: Yoshasrul |
Iwan (34 tahun) menghirup napas
dalam-dalam sebelum akhirnya menghilang dari permukaan laut. Gerakan yang
lincah membuatnya dengan cepat menggapai dasar laut yang dalamnya
mencapai 15 meter itu. Berbekal bantuan kompresor sebagai alat bantu pernapasan,
pemuda perkasa ini leluasa menjelajahi karang di dasar samudera membawa
bibit-bibit kerang kima sebesar batok kepala untuk dibudidayakan.
Kima-kima berbagai jenis itu ditata dengan rapi agar leluasa berkembang
biak.
Ya, kegiatan yang dilakukan Iwan dan kelompoknya di Desa
Toli-Toli, Kecamatan Soropia, Kabupaten Konawe, Provinsi Sulawesi Tenggara ini
patut menjadi teladan bagi warga lainnya. Betapa warga yang tergabung
dalam kelompok Balai Konservasi Taman Laut Kima toli-toli ini, sejak 8 tahun belakangan telah membudidayakan sekitar 8000 kerang kima berbagai jenis
dan ukuran. Ini dilakukan sebagai langkah penyelamatan spesies kerang laut
dilindungi ini, dari kepunahan.
Kelompok ini prihatin atas perburuan kima secara massal.
Daging kima yang diketahui memiliki protein tinggi menjadi alasan utama
perburuan biota laut itu. Kima menjadi komoditas eksport paling dicari oleh
singapura, Taiwan, Hongkong,Jepang hingga Amerika Serikat. Di pasar
internasional, harga daging kima kering mencapai USD 150 per kg.
“Ancaman kepunahan kima ini, maka kehidupan ekosistem di
lautan pun dalam ancaman kehancuran,”kata Iwan.
Data konservasi taman laut kima toli-toli menyebutkan
terdapat sembilan spesies kima didunia, yaitu: tridacna gigas, t. derasa,
t.squamosa, t. maxima, t. crosea, t. tevoroa, t. rosewate,hippupos-hippopus
& hippopus porcellanus. Tujuh diantara sembilan spesies itu hidup di Indonesia.
Tingkat pertumbuhan kima sendiri sangat lamban (2-12 cm/tahun berdasarkan
species-nya dan tingkat usia pertumbuhan), sehingga untuk mencapai ukuran
maksimal 150 cm/ kima memerlukan waktu tumbuh hingga seratus tahun.
![]() |
| Aktifitas pembudidayaan Kima oleh lembaga Konservasi Kima Toli Toli, Kab. Konawe |
Iwan
bercerita, mulanya Ia sama sekali tidak mengerti tentang konservasi kima.
Perjumpaannya dengan Habib Nadjar Buduha (47) membuatnya belajar banyak
tentang proses budidaya kima ini di desanya. “Jujur Pak Habiblah yang mengajari
kami tentang kepedulian dan konservasi kima ini,”ungkapnya.
Iwan
mengaku konservasi dilakukan tergerak untuk menyelamatkan kima dengan modal
yang mereka kumpulkan sendiri. Awalnya jumlah cuma satu orang lalu mereka
saling mengajak beberapa warga desa untuk bergerak bersama hingga kini
jumlahnya puluhan warga. Proses itu dilakukan Komunitas Balai Konservasi sejak
akhir tahun 2009 silam.
Secara bersama-sama, kelompok ini telah mengumpulkan
delapan ribuan kima dari tujuh jenis yang ditempatkan dan dipelihara di
konservasi laut seluas dua puluh hektar ini.
Kima-kima itu dikumpulkan dengan peralatan dan perlengkapan
sederhana, yakni sebuah kapal motor tradisional berbobot 3 ton dan peralatan
menyelam yang memakai mesin kompresor tambal ban sebagai pemasok udara. “Kami
mencari bibit kima hingga ke Provinsi Sulawesi Tengah,”kata Iwan.
“Wilayah perairan laut Desa Toli-toli dan sekitarnya dinilai
sebagai lokasi yang tepat untuk budidaya atau konservasi kima, karena memiliki
rab yang tak jauh dari daratan. Daerah ini dulunya juga merupakan habitat asli
kima serta memiliki bebatuan dan terumbu karang yang masih terjaga,”ungkap
Iwan, salah petugas Balai Konservasi Kima Toli-toli, pecan lalu.
Pemerintah desa sendiri mendukung sepenuhnya upaya
kelompok balai konservasi kima toli-toli ini, bahkan telah mengajak warga
desa untuk bersama-sama membantu konservasi kima di desanya. “Berkat
kerja keras kelompok ini telah membuat laut di desa-toli menjadi bersih
dan ikan—ikan semakin banyak,”kata Jawahir Bardin, Kepala Desa Tolitoli.
Kima (tridacna) menjadi komoditas bernilai tinggi karena
dagingnya yang kaya protein. Harga daging kering kima di pasaran dunia mencapai
150 dollar as per kilogram (sekitar rp 1,3 juta). Selain itu cangkangnya
menjadi incaran industri perhiasan dan dekorasi.
Kima sendiri berfungsi sebagai penyaring alami air laut. Saat
makan, Ia menyedot air laut untuk menyerap plankton dan segala kotorannya.
Setelah dicerna, air laut dikeluarkan lagi dalam kondisi bersih// proses itulah
yang menjaga kebersihan laut yang penting bagi kesehatan terumbu karang.
Hewan yang biasa hidup di puncak gunung laut (rab) itu juga
menjadi "pabrik" makanan bagi satwa-satwa laut lainnya. Telur dan
anak kima menjadi santapan bagi ikan, gurita dan kepiting. Tubuh kima juga
menjadi rumah bagi berbagai terumbu karang.
Dari sembilan jenis kima yang ada di dunia, tujuh di
antaranya hidup di perairan dangkal (maksimal kedalaman 20 meter) dan hangat di
seantero nusantara. jumlah itu termasuk dua jenis yang paling langka/ yakni
tridacna gigas (kima raksasa) dan tridacna derasa (kima selatan).
Dua jenis kima itu sekarang hanya bisa ditemukan di perairan
sepanjang sulawesi hingga papua. tridacna gigas dan tridacna derasa menjadi
langka karena paling kerap diburu mengingat ukurannya yang besar. kima jenis
ini bisa mencapai panjang 1,3 meter dengan berat 200 kilogram.
Permasalahan muncul karena eksploitasi yang berlebihan itu
tak sebanding dengan laju pertumbuhan kima. Hewan ini lambat
perkembangbiakannya, hanya berkisar 2-12 sentimeter setiap tahun. Untuk tumbuh
hingga sepanjang setengah meter dibutuhkan waktu puluhan tahun.
Pemerintah pun telah memasukkan lima jenis kima (tridacna
crocea, tridacna derasa, tridacna gigas, tridacna maxima, dan tridacna
squamosa) sebagai satwa yang dilindungi dalam peraturan pemerintah nomor 7
tahun 1999.
![]() |
| Cangkang Kima dalam berbagai ukuran yang berhasil dikumpulkan para penggiat lingkungan. foto: Yoshasrul |





Comments
Post a Comment